|
________________________SINOPSIS__________________________
Makin banyak orang yang mengklaim peduli dan berjuang untuk mengangkat harkat dan derajat wong cilik, rakyat kecil, orang pinggiran, masyarakat marjinal atau apa pun sebutan buat mereka. Benarkah mereka sungguh-sungguh peduli dan berjuang untuk rakyat miskin? Pernahkah kita mencoba membayangkan apa rasanya jadi orang kecil?
Kisah-kisah singkat dalam buku MISKIN TAPI SOMBONG akan membawa kita pada empati dan sampai pada kesimpulan: ternyata jadi orang susah itu susah! Si penulis yang dosen nyentrik ini juga melengkapi bukunya dengan kisah-kisah mulai dari yang bertema politik, agama, plesetan dongeng sampai perselingkuhan! Sebuah buku yang sungguh-sungguh sayang untuk dilewatkan!
_________________________REVIEW__________________________
“Sepasang mata “Bung Kelinci” memotret realita sosial layaknya judul headline koran kuning yang berhuruf tebal dan merah dengan cara yang berbeda. Langka tapi nyata.” —Rita T. Budiarti, Penulis Di Balik Layar Laskar Pelangi
“Iwan sedang ingin membawa kita turun dari ketinggian, menemui kemeriahan fakta. Tak ada yang berbedak palsu. Yang terhampar menemui kita adalah kenyataan yang jujur. Nikmatilah.” —Hasan Aspahani, Penyair & Jurnalis
________________________RESENSI__________________________
IRONI KAUM MARGINAL
Dari seluruh karakter puisinya yang sederhana, jenaka, dan terkadang seronok itu, tampaknya Iwan bisa disebut sebagai penerus Remy Sylado, yang terkenal akan gaya puisi mbeling. Puisi-puisi Remy membuat kita tersenyum, tertawa terbahak-bahak, atau merenung. Namun, di dalam kelakarnya, Remy sebenamya sedang bersikap serius. Dia menelanjangi sikap feodal dan munafik masyarakat kita, terutama di kalangan pemimpin bangsa. (Haris Priyatna, Pikiran Rakyat, Juli 2009) ... |
|